20 September 2013

aku yang dulu, aku yang kini (hanya prolog)

Sudah lama aku berjalan tanpa arah seperti ini, aku tidak tahu ke mana tujuanku. Aku tidak ada tempat untuk singgah malam ini. Hanya temaram lampu dan bisikan malam yang menemaniku saat ini.

Dicampakkan? Ya! Aku dicampakkan oleh kekasihku sendiri yang dulu sangat mencintaiku.
Mungkin bila orang melihat diriku saat ini, tak ubahnya seperti pria jalang yang mengais rezeki di tengah malam.

"Hai... butuh tumpangan?" Tanya seorang lelaki setengah baya tambun dari dalam mobil sedan keluaran tahun '90an.
"Maaf, saya bukan seperti yang Anda pikirkan." Aku mencoba untuk tetap tenang, walau dalam hatiku sebenarnya takut.

Malam ini bukan hanya lelaki hidung belang saja yang ingin berkencan denganku, tetapi juga ada beberapa wanita paruh baya yang beramai-ramai mencari pria pemuas nafsu bejad mereka yang dapat mereka bawa ke mana saja.

"Ah! Ada warung kopi," pikirku untuk sekadar melepas penat. Lantas aku menyeberangi jalan raya yang tidak begitu ramai itu dengan tanpa menengok ke kanan dan ke kiri.

Lalu semua putih... Aku hanya bisa melihat sekilas orang-orang yang seolah-olah berlari mendekat ke arahku, namun semuanya kembali putih, buram, dan hitam. Hingga aku tak tahu lagi apa yang terjadi pada diriku.

***

No comments:

Post a Comment